Lanting Dihanyutkan di Barito: Ritual Wara Tegaskan Identitas Dayak Barito
Barito Utara - Desa Pendreh, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara kembali menjadi saksi pelaksanaan Ritual Adat Wara Tingkat Akhir, sebuah upacara kematian paling sakral bagi penganut Hindu Kaharingan. Rangkaian acara yang dimulai beberapa hari lalu mencapai puncaknya melalui prosesi Nulak Salung dan penghanyutan Lanting Jabing Salimat di bantaran Sungai Barito.Menurut tetua adat setempat, Wara adalah tradisi leluhur yang telah dijaga turun-temurun sejak sebelum masa kolonialisme. Pelaksanaan Wara diatur oleh Kepala Wara—pemangku adat tertinggi yang memimpin seluruh mantra dan prosesi. Lama pelaksanaan berbeda-beda, umumnya berdasarkan keputusan adat; salah satu paket ritual berlangsung dua kali tujuh hari (14 hari) sesuai pakem lokal.Puncak prosesi ditandai dengan Nulak Salung dan Naping Jabing Salimat, di mana Lanting—rakit kecil berisi sesajen dan perlengkapan arwah—dihanyutkan ke sungai sebagai simbol pelepasan leluhur menuju Lewu Tatau, alam keabadian. Bahasa-bahasa ritual, termasuk istilah Jabing Salimat, hanya dipahami para Basir dan Kepala Wara, sehingga nuansa sakral sangat terjaga.Ketua panitia pelaksana, Sito, menegaskan kepada awak media bahwa Wara murni bersifat sakral dan bukan arena komersial. "Kami melaksanakan ritual adat Wara, tidak pernah untuk bisnis, tidak pernah untuk menipu pihak lain. Kami melaksanakan acara adat ini sakral, dan kami ditinjau langsung oleh Wakil Bupati, dipantau terus dari kepolisian," ujarnya.Pihak kepolisian lewat Polres Barito Utara turut mengimbau agar pelaksanaan ritual tidak disalahgunakan sebagai kedok perjudian atau praktik komersial, khususnya kegiatan yang dikenal sebagai Riek Liau. Aparat menegaskan akan terus memantau hingga rangkaian acara selesai untuk memastikan ketertiban dan menghormati nilai-nilai adat.Hadirnya Wakil Bupati dan pengawasan kepolisian diharapkan memberi jaminan keamanan sehingga prosesi berjalan lancar dan khidmat. Masyarakat setempat menyambut penuh rasa hormat dan haru, menyaksikan tradisi yang memahat identitas budaya Dayak Barito tetap hidup.Ritual Wara mempertegas keberadaan Hindu Kaharingan sebagai penjaga adat istiadat leluhur, sebuah warisan budaya yang terus dijaga generasi sekarang agar tidak hilang begitu saja.Narasi singkat (untuk ringkasan / social media, 2–3 paragraf)
Ritual Adat Wara Tingkat Akhir kembali digelar khidmat di Desa Pendreh, Teweh Tengah, Barito Utara, ditandai Nulak Salung dan penghanyutan Lanting Jabing Salimat di Sungai Barito. Prosesi sakral ini dipimpin oleh Kepala Wara dan memakai bahasa ritual khusus yang hanya dipahami pemuka adat.Panitia menegaskan acara bersifat sakral dan bukan untuk kepentingan bisnis, sementara Polres setempat mengimbau agar ritual tidak dijadikan kedok perjudian. Pengawasan dari Wakil Bupati dan aparat memastikan rangkaian berjalan aman dan menghormati tradisi leluhur.
Tim Red