Jejak Para Kyai 🇲🇨
Akhir abad ke-19, dua pemuda nyantri di Semarang kepada Kiai Sholeh Darat. Yang satu dari Jombang, dipanggil Adi Hasyim. Yang lain dari Kauman Yogyakarta, dipanggil Mas Darwis.
Keduanya juga berguru di Makkah kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Gurunya sama, kitabnya sama. Tapi sepulang ke tanah air, mereka membaca luka bangsanya dengan cara yang sangat berbeda.
.
Adi Hasyim pulang membawa satu kegelisahan, yaitu ilmu yang tercerabut dari adab. Di Tebuireng, ia menjaga kitab kuning dan sanad keilmuan dengan sangat ketat.
Ia bahkan menulis kitab khusus tentang adab murid dan guru. Baginya, belajar adalah ibadah, bukan perlombaan gelar. Tapi di Kauman, sahabatnya justru tak bisa tidur karena bahaya yang sama sekali berbeda.
.
Mas Darwis, yang kini dikenal sebagai Ahmad Dahlan, melihat umatnya dihinakan karena tak menguasai ilmu modern. Pesantren melahirkan ulama yang fasih fikih, tapi asing dengan berhitung dan sains.
Ia merombak ruang tamunya menjadi kelas berkursi dan berpapan tulis ala Belanda, lalu dicap kiai kafir. Yang dilakukannya kemudian membuat banyak orang terdiam.
.
Untuk membiayai sekolahnya, KH Dahlan menjual perabot rumah hingga hanya tersisa beberapa pakaian dan perkakas dapur. Baginya, pendidikan harus membebaskan umat dari kebodohan, kemiskinan, dan ketertindasan.
Ketika seorang santri melaporkan gerakan baru dari Yogyakarta, KH Hasyim asyari justru tersenyum. Itu Kang Darwis, katanya, ayo kita dukung. Lalu kenapa kita yang mewarisi keduanya malah saling curiga?
.
KH Hasyim menjaga akar, KH Dahlan menumbuhkan dahan. Bangsa ini butuh keduanya, dan kisah mereka bisa Anda telusuri dalam Filsafat Pendidikan K.H. Hasyim Asy'ari karya Fakhri Nurzaman serta Filsafat Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan karya Utami Pratiwi.
Menjelang Hari Santri, miliki keduanya dalam satu paket. temukan kenapa dua sahabat tak pernah benar-benar berseberangan.
