Infobaritoutara.id

Panglima Batur Sang Penjaga Martabat di Ujung Tali Gantung

 


Di pedalaman Sungai Barito, ketika sebagian besar wilayah Nusantara telah berada di bawah tekanan kolonial, masih ada satu tempat yang terus menyalakan api perlawanan. Di sanalah muncul seorang sosok yang namanya hingga kini dipuja sebagai simbol keberanian tak tergoyahkan masyarakat Dayak: **Panglima Batur**.


Lahir di Buntok Baru sekitar tahun 1852, Batur bin Barui bukanlah pejuang biasa. Ia adalah panglima dari masyarakat Dayak Bakumpai yang memeluk agama Islam. Ia dikenal bukan sekadar karena ketangguhannya di medan laga, melainkan karena kemampuannya yang luar biasa dalam merajut persatuan di antara berbagai kelompok Dayak di pedalaman Barito.


Saat banyak daerah di Nusantara mulai bertekuk lutut di bawah kekuasaan Belanda, Panglima Batur justru memilih jalan yang paling berat dan penuh risiko: **melawan**.


Perlawanan ini merupakan kelanjutan dari bara api Perang Banjar. Setelah wafatnya Pangeran Antasari, tongkat estafet perjuangan diteruskan oleh putranya, Sultan Muhammad Seman. Di tengah situasi yang semakin terhimpit, Panglima Batur berdiri tegak di samping sang Sultan. Keduanya mengikat janji suci: tidak akan pernah menyerahkan tanah Banjar kepada penjajah. Sumpah itu bukan sekadar retorika; mereka mengangkat senjata dan mengobarkan perang gerilya yang paling ditakuti Belanda di pedalaman Kalimantan.


Sebagai pusat pertahanan, mereka membangun **Benteng Manawing**. Terletak jauh di pedalaman yang dikelilingi hutan lebat dan sungai-sungai yang sulit ditembus, lokasi ini menjadi benteng alami yang memusingkan pasukan kolonial.


Dari jantung hutan inilah, strategi perang disusun. Panglima Batur berhasil menyatukan suku Siang, Murung, dan Dusun dalam satu barisan kekuatan yang solid. Persatuan inilah yang membuat Belanda kewalahan. Serangan demi serangan terus dilancarkan, hingga pasukan Panglima Batur berhasil merebut wilayah strategis seperti Kasintu dan Jaan, bahkan menghancurkan Benteng Kuala Sirat milik Belanda di kawasan Barito. Selama bertahun-tahun, keberadaan satu pusat perlawanan ini telah menguras tenaga, biaya, dan nyawa pasukan kolonial.


Belanda yang merasa terdesak akhirnya mengerahkan pasukan elite **Marsose** di bawah pimpinan Letnan Christofel, unit yang dibentuk khusus untuk memburu para pejuang yang sulit ditaklukkan. Pertempuran besar pun tak terelakkan. Meski persenjataan Belanda jauh lebih modern, Panglima Batur dan para pejuangnya tetap bertahan hingga titik darah penghabisan.


Namun, Belanda tidak hanya menggunakan senjata; mereka menggunakan tipu muslihat. Melalui siasat licik dan bantuan pihak-pihak yang pro-kolonial, posisi pertahanan akhirnya terbongkar. Benteng Manawing jatuh pada Januari 1905, dan Panglima Batur akhirnya tertangkap. Namun, Belanda hanya berhasil menguasai fisiknya, bukan semangatnya.


Di Banjarmasin, vonis mati dengan cara digantung telah dijatuhkan. Menjelang eksekusi pada 5 Oktober 1905, Belanda menawarkan untuk menutup mata sang Panglima. Dengan tenang dan penuh wibawa, Panglima Batur menolak. Ia justru ingin melihat langsung tali yang akan mengakhiri hidupnya.


Bagi seorang pejuang, maut bukanlah lawan. Ia tidak merasa takut, karena apa yang ia bela jauh lebih besar daripada nyawanya sendiri—yaitu tanah air dan kehormatan.


Tiang gantung memang menghentikan detak jantung Panglima Batur, namun tidak pernah mampu menghentikan perjuangannya. Namanya tetap abadi dalam ingatan masyarakat Barito sebagai sosok yang memilih kehormatan daripada tunduk. Ia adalah bukti nyata bahwa keberanian sejati bukanlah tentang kemenangan di medan laga semata, melainkan tentang keteguhan mempertahankan keyakinan, bahkan ketika maut berdiri tepat di hadapan mata.

Team Red

Posting Komentar
ADVERTISEMENT