OLOH BARITO
Di kawasan sungai Barito, kelompok Ngaju seringkali disebut Biaju oleh kelompok etnis di sekitarnya. Sebutan ini menyebabkan pandangan yang salah dalam Encyclopaedie van Naderlandsch-Indie (edisi kedua), dimana dalam poinnya menyebutkan sebagai Sub Ngaju yang terpisah (Scharer, 1963; 1). Hans Scharer dalam catatan kakinya menulis bagian dari Encyclopaedie van Naderlandsch-Indie (edisi kedua) tersebut ;
The author of the article writes about the Biaju : Name of one of the Olo Ngaju (i.e.upriver people) in the South and East devision of Borneo. The live between the mouth of the Barito River and Kota Waringin Mountains and are devided into various smaller tribes taking their names from the river along which they live.
Orang Ngaju menyebut diri berdasarkan asal sungai, misalnya; oloh Kahayan, oloh Kapuas, oloh Barito, dst ketika berbicara dengan sesama suku mereka yang menetap di sungai yang berbeda dengan diri mereka. Aliran sungai Kahayan adalah kawasan asal orang Dayak Ngaju, baru kemudian mereka menyebar ke sungai-sungai lain. (Scharer, 1963;1).
Sungai Barito dalam ritual Dayak Ngaju ditandak sebagai Batang Danum Narewa Bunu Guhung Asuh Lasang. Tandak ini menunjukkan ciri dan sifat sungai Barito yang lebar, arusnya deras dan bisa menghanyutkan apa saja.
Ada tiga kelompok oloh Ngaju Barito, yakni oloh Bakumpai, oloh Mangkatip dan oloh Barangas.
D.1. Oloh Bakumpai
Oloh Bakumpai adalah kelompok yang paling dominan. Mereka bermukim dari muara sampai ke hulu Barito. Sedangkan oloh Mangkatip hanya menempati kawasan sekitar Mangkatip, di kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Selatan.
Kota-kota menjadi pusat oloh Bakumpai adalah Marabahan (Kalimantan Selatan), Muara Teweh, Buntok dan Puruk Cahu. Sampai tahun 2000, jumlah oloh Bakumpai di Kalimantan Tengah sekitar 135.297 orang dan di Kalimantan Selatan 20.609 (BPS Tahun 2000).
Disamping itu oloh Bakumpai juga menyebar ke Kalimantan Timur, terutama kawasan Long Iram (Riwut, 2007 ; 66). Selain kawasan tadi, Kota Banjarmasin, Tumbang Samba (sungai Katingan) dan sekarang Kota Palangka Raya merupakan kawasan yang banyak oloh Bakumpai.
Bakumpai adalah bagian dari Dayak Ngaju yang beragama Islam (Schareer, 1963 : 3, Ukur, 2000; 151).
Sama seperti oloh Barangas, mereka sudah berabad-abad memeluk agama Islam. Nasrullah, cendikiawan asal Bakumpai memperkirakan bahwa oloh Bakumpai sudah memeluk Islam jauh sebelum perjanjian antara kerajaan Demak dan Pangeran Samudera terjadi pada abad ke-17 (Nasrullah, 2014: 39). Ini terjadi karena pemukiman oloh Bakumpai adalah kawasan penting di kerajaan Banjar. Marabahan sebagai kampung asal oloh Bakumpai menjadi pusat bisnis kerajaan Banjar, baik di tingkat lokal maupun International. Karena menjadi pusat dagang, banyak orang Arab berdagang di sana.
Sama seperti oloh Ngaju di kawasan lain, leluhur oloh Bakumpai adalah Kaharingan. Peristiwa mundurnya Patih Muhur sebagai bagian dari Mantri Ampat dari Kerajaan Banjarmasin serta membakar istananya sendiri karena membela adik perempuannya yang Kaharingan adalah sepenggal kisah bahwa leluhur orang Bakumpai penganut Kaharingan yang taat.
Patih Muhur adalah pemimpin lewu Anjir Sarapat, sekutu dekat Patih Balit, Patih Balitung, Patih Kuin dan Patih Masih yang berjasa menobatkan Pangeran Samudera sebagai Raja Banjarmasin pada tahun 1526 masehi. Empat Patih itu, (Balit, Balitung, Kuin, Muhu) masuk Islam ketika Pangeran Samudera (Rosyadi, 1993 : 104) menerima Islam.
Ketika bermufakat hendak menobatkan Pangeran Samudera sebagai raja Banjar, keempat Patih itu membawa warganya masing-masing, sehingga terkumpul sekitar 500 orang di rumah Patih Masih. Mereka yang berkumpul tidak hanya menikmati hidangan ayam dan kambing, tetapi minum tuak dan arak, bahkan sampai mabuk (Rosyadi, 1993 : 91). Hikayat Banjar tidak menyebutkan bahwa para patih itu memakan babi. Bisa jadi babi tidak dimakan pada saat itu dikarenakan acara dilangsungkan di rumah Patih Masih, yang memang orang Melayu dari Sumatera dan sudah Islam saat itu.
Kelompok ini disebut Bakumpai karena mereka mendiami kawasan yang banyak ditumbuhi kumpai. Kumpai adalah sebutan untuk rumput gelagah (Saccharum spontaneum) yang beruas-ruas, tumbuh di pinggir sungai, setinggi 5 (lima) meter. Bakumpai bermakna memiliki kumpai, dimana dalam bahasa Dayak Ngaju prefiks ba yang digabungkan dengan kata benda membuat terkadang kata itu berubah menjadi kata kerja. Sehingga kata kumpai yang diberi awal ba menjadi bakumpai.
Tradisi lisan orang Bakumpai menurutkan bahwa asal-usul mereka berasal dari lewu Air Manitis, sebuah lewu orang Dayak Ngaju. Adalah Datu Sadurung Malan, gadis cantik dari Air Manitis memilih berpegang kepada adat Dayak, dia menolak lamaran kakak kandungnya, lalu meninggalkan kampung halamannya dan menetap sesaat di tempat lain. Ketika kembali, dia tidak menetap di kampung halamananya, tetapi membangun kampung di Marabahan. Selanjutnya banyak orang mengikuti jejak Datu Sadurung Bulan dan menetap di Marabahan. Kelompok Datu Sadurung Malan inilah yang menurunkan oloh Bakumpai.
Tjilik Riwut mengatakan bahwa leluhur orang Bakumpai berasal dari lewu Bukit Rawi, Kahayan. Tokoh itu bernama Tamanggung Pandung Tanjung Kumpai Dohong (Riwut, 2007: 542). Ini sejalan dengan pernyataan Han Scharer yang menyebut asal kelompok Ngaju (Scharer, 1963 : 2).
Pada zaman kolonial, kawasan oloh Bakumpai memiliki distrik tersendiri yang disebut Disctricten Bacompaij (Landskrukkerij, 1849). Istilah Bacompaij untuk menyebut suku, sedangkan oloh Bakumpai disebut Becompaijers, sama seperti Daijak untuk menyatakan suku Dayak dan Daijakkers untuk menyatakan oloh Dayak.
Bunyi kosakata Bakumpai mirip dengan bahasa Ngaju di Kapuas atau Kahayan. Adanya perbedaan dikarenakan Bakumpai banyak menyerap kosakata Banjar. Meskipun orang Bakumpai menggunakan bahasa Bakumpai dan orang Kahayan menggunakan bahasa Kahayan, mereka bisa berkomunikasi dengan sempurna. Siti Jamzaroh dari Balai Bahasa Kalimantan Selatan yang meneliti kekerabatan bahasa Bakumpai dan Barangas dengan metode leksikostatistik menyimpulkan bahasa Barangas dan Bakumpai berasal dari Dayak Ngaju (Jamzaroh, 2020;14).
D.2. Oloh Mangkatip
Oloh Mangkatip atau dikenal dengan oloh Bara Raren menyebar dari Mangkatip sampai Buntok (Riwut, 2007 : 66). Mangkatip adalah ibu kota kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Selatan.
Kebudayaan oloh Mangkatip mirip seperti oloh Kapuas dan oloh Kahayan. Oloh Mangkatip melakukan aktivitas berladang yang mereka sebut malan atau manana, mereka juga memiliki pangantoho, yaitu rumah kecil yang berisi benda keramat sebagai pelindung kampung.
Oloh Mangkatip menuturkan bahasa Ngaju dengan dialek Bara Raren/Bara Raden. Namun saat ini kawasan itu menggunakan bahasa Bara Raren yang bercampur dengan bahasa Bakumpai (Bestari, 2017).
D.3. Oloh Barangas
Oloh Barangas adalah kelompok Dayak Ngaju yang mendiami Kota Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala. Kelompok ini dipisahkan oleh sungai Alakak yang bermuara di sungai Barito, hilir Marabahan.
Kantong-kantong penutur bahasa Barangas di Kabupaten Barito Kuala ada di Alalak, Balandean, Tabunganen, Sungai Teras (Jamzaroh, 2020 : 2). Selain di kawasan itu, penutur bahasa Barangas ada di Sungai Tandipah, Jelapat, Sungai Puduk, Sungai Takuluk dan Aluh-Aluh.
Berdasarkan kajian leksikostatistik yang telah dilakukan Balai Bahasa Kalimantan Selatan, Bahasa Barangas dan bahasa Bakumpai memiliki kognat (kemiripan) atau derajat retensi (penahan terus-menerus) sebesar 75 (tujuh puluh lima) persen. Dengan demikian Bahasa Barangas dan Bahasa Bakumpai berkerabat dekat serta mewarisi bahasa dari bahasa proto (bahasa Induk), yaitu bahasa Ngaju (Jamzaroh, 2020; 14 -15).
Tjilik Riwut mencatat ada dua tokoh dari Bukit Rawi, yang menjadi leluhur orang Barangas. Yang pertama adalah Suan Ngantung Rangas Tingang, yang kedua bernama Imat Anjir Sarapat. Imat Anjir menetap di Muara Anjir Sarapat dan menjadi leluhur orang Alalak (Riwut, 2007 : 542).
Oloh Barangas bisa dianggap sebagai penduduk kota raja (banua) kerajaan Banjar mula-mula. Mereka yang dimaksud dengan oloh sungai Kuin (dipimpin Patih Kuin), oloh sungai Balitung (dipimpin Patih Balitung), oloh sungai Balandean (dipimpin Patih Balit), oloh Bakumpai di sungai Sarapat (dipimpin Patih Muhur) dan oloh Melayu di Bandar Masih (dipimpin oleh Patih Masih) adalah warga yang menobatkan Pangeran Samudera sebagai Raja Banjar.
Kedekatan Pangeran Samudera dengan oloh di Kuin, Balandean, Balitung dan Sarapat jauh sebelum menjadi raja, yaitu ketika Samudera menyamar sebagai nelayan untuk menghindari kejaran pamannya, Pangeran Temenggung dari Daha (Rosyadi, 1993 : 89). Samudera seringkali berada di perkampungan orang Dayak di sungai Balitung, Kuin, Balandean dan Sarapat, bahkan memberikan para pambakal kampung itu ikan-ikan dari hasilnya menjala.
Patih yang disandang mereka adalah gelar untuk pambakal (kepala kampung). Para patih oloh Barangas dan oloh Bakumpai itu menjadi kelompok pembesar kerajaan yang disebut Mantri Ampat, yaitu Panganan dijabat oleh Patih Balitung, Pangiwa dijabat oleh Patih Balit, Gampiran dijabat oleh Patih Kuin dan Panumping dijabat oleh Patih Muhur.
Saat ini oloh Barangas sulit diidentifikasi, karena sudah melebur sebagai orang Banjar Kuala. Yulia Puspita dari Balai Bahasa Kalimantan Selatan mengatakan bahwa Bahasa Barangas sudah hampir punah. Bahasa ini hanya dimengerti oleh beberapa orang yang sudah berumur lebih dari 40 (empat puluh) tahun, itupun jumlahnya terbatas. Generasi Dayak Barangas kebanyakan hanya bisa berkomunikasi dalam bahasa Banjar.
Catatan : Di sepanjang Sungai Barito tidak hanya dihuni oleh kelompok oloh Ngaju, namun ada Dusun, Lawangan, Maanyan, Siang, dsb. Tulisan tentang oloh Barito pernah diposting dua minggu yang lalu. Namun tidak termasuk Barangas.
Tulisan ini adalah draf awal. Kami berterima kasih kepada Bapak/Ibu dan rekan-rekan netizen apabila memberikan masukan dan saran, baik melalui kolom komentar, maupun jaringan pribadi.
Foto 1 : Banjarmasin pada masa lalu, lukisan Schwaner.
Foto 2. Rencana cover buku.
Sumber informasi ;
Damianus Siyok
https://www.facebook.com/752239683/posts/10158902840914684/
#sukudayak
#dayak
#barito
#olohbarito
#dayakngaju
#kalteng
#borneo